<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Centre of Asian Studies (CENAS)</title>
	<atom:link href="http://cenasofindonesia.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cenasofindonesia.org</link>
	<description>Enhancing Asian Values and Thinkings in Asia&#039;s Multicultural Society</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Jun 2013 23:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Hening Waisak, Damailah Bangsaku</title>
		<link>http://cenasofindonesia.org/hening-waisak-damailah-bangsaku/</link>
		<comments>http://cenasofindonesia.org/hening-waisak-damailah-bangsaku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 May 2013 06:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essays]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cenasofindonesia.org/?p=640</guid>
		<description><![CDATA[Kontekstualisasi Makna Waisak 2557 BE  Edi Ramawijaya Putra Waisak memang merupakan hari raya keagamaan biasa, apalagi hari besar ini dimiliki oleh Agama Buddha yang notabene-nya adalah minoritas, dengan jumlah hanya kurang lebih lima persen dari total penduduk di negeri ini. &#8230; <a href="http://cenasofindonesia.org/hening-waisak-damailah-bangsaku/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em><a href="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/05/Edi-Rama.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-643" title="Edi Rama" src="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/05/Edi-Rama-203x300.jpg" alt="" width="142" height="210" /></a>Kontekstualisasi Makna Waisak 2557 BE</em></p>
<p align="right"><strong> Edi Ramawijaya Putra</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Waisak memang merupakan hari raya keagamaan biasa, apalagi hari besar ini dimiliki oleh Agama Buddha yang notabene-nya adalah minoritas, dengan jumlah hanya kurang lebih lima persen dari total penduduk di negeri ini. Tidak ada cuti bersama, tidak ada hiruk pikuk iklan di televisi, tidak ada libur fakultatif bagi PNS dan sekolah-sekolah, pendek kata tidak ada yang terlihat spesial. Terlebih lagi waisak tahun ini jatuh di hari Sabtu bertepatan dengan akhir pekan seperti hari-hari sebelumnya.<span id="more-640"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Namun, peringatan Waisak yang minim seleberasi dan gaung ini tetap memiliki makna. Waisak adalah peringatan tiga sejarah mulia dalam kehidupan seorang Guru Agung yang dikenal luas dengan sebutan Buddha Gotama atau Buddha Sakyamuni, yaitu kelahiran, pencapaian penerangan sempurna dan mangkat agung <em>(parinibbana)</em>. Calon Buddha terlahir sebagai bangsawan sekaligus pewaris tahta kerajaan besar. Tidak terbayangkan jumlah harta benda yang dimiliki-Nya, jika dikonversikan dalam bentuk rupiah. Namun, Pangeran Siddharta telah membuktikan bahwa kerlip harta yang dimilikinya tidak menyilaukan matanya untuk berlatih dalam kesederhanaan, menentramkan diri dalam kontempelasi mendalam (meditasi), hingga mencapai pencerahan sempurna. Sekembali dari pertapaan, berbekal pengetahuan tentang realitas absolut tentang kehidupan, Buddha Gotama sekali lagi tidak menunjukan arogansi sebagai mahluk superior, melainkan ia mampu mengubah pola arogansi sosial yang saat itu sangat kental dengan strata dan pe-level-an sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua pelajaran penting dari kandungan makna Waisak di atas adalah pelajaran tentang melepas <em>(release)</em> dan pelajaran tentang kesederhanaan. Pelajaran ini sangatlah relevan untuk melihat Indonesia  mutakhir. Kasus korupsi yang merajalela melibatkan petinggi negara, pejabat publik dan petinggi partai politik mengindikasikan sulitnya untuk &#8220;melepas&#8221;. Melepas kemelekatan terhadap objek-objek panca indria yang memuaskan. Perilaku korup adalah upaya pemenuhan keinginan nafsu yang tidak berujung dan mengarah pada perilaku hedonisme. Maraknya kasus-kasus korupsi yang terjadi dari mulai tingkat akar rumput <em>(grass root)</em> hingga tingkat yang paling tinggi <em>(elite)</em> memperlihatkan bahwa bangsa ini sedang &#8220;sakit parah&#8221; dan hanya dengan mengembalikan sistem <em>immune</em>, kekuatan virus mematikan ini sedikit demi sedikit akan hilang. Lembaga formal pemberantasan korupsi seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Kejaksaan dan Kepolisian hanya melaksanakan seremonial eksekusi setelah terjadinya kasus korupsi. Ibarat penyakit tentunya tindakan kuratif adalah baik, namun lebih baik lagi tindakan preventif. Sistem immune ini adalah <em>self-healing</em><em> </em>yang dapat dilakukan oleh semua komponen bangsa, termasuk para penyelenggara negara. Dalam bahasa yang sederhana, Buddha Gotama menjelaskan dalam dua kata, yaitu hanya dengan malu <em>(hiri)</em> dan takut <em>(ottapa)</em> akan akibat dari perbuatan tidak bajik, seseorang akan mampu untuk menghindarkan dirinya dari perbuatan jahat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah jelaslah, Waisak harusnya tidak hanya dimaknai sebagai sebuah peringatan kilas balik sejarah semata, melainkan momentum untuk kembali menguatkan keyakinan terhadap ajaran Buddha Gotama dan melaksanakannya dalam kehidupan sebagai warga negara Indonesia yang harus berkontribusi terhadap kemajuan dan proses transformasi sosial-politik yang terjadi. Buddha Gotama sebagai guru para umat Buddha di seluruh dunia,  semasa hidupnya telah memberikan contoh nyata untuk berbuat dan merasakan langsung hasil dari aktualisasi spiritual yang ia jalankan. Meski Buddha Gotama telah lama mangkat agung <em>(parinibbana)</em> beribu-ribu tahun silam, namun ketika perayaan Waisak tiba setiap tahunnya, ajaran dan tindakan nyatanya masih tetap relevan dalam perkembangan sosial kemasyarakatan, politik dan budaya sekarang ini. Lebih-lebih, eksistensi Agama Buddha sejak era 1998 dan pasca-Reformasi telah memberikan wacana yang lebih luas dalam sistem politik dan kebangsaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebebasan dalam iklim berdemokrasi yang utuh membuka peluang bagi umat Buddha mulai merambah politik prakits. Stimulus demokrasi yang subur ini membuka ruang-ruang egaliter bagi setiap umat Buddha untuk mengakses jabatan-jabatan publik baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Saat ini apalagi dalam momentum menuju Pemilihan Legislatif (PILEG) dan Pemilihan Presiden (PILPRES) 2014, dan Pilkada di berbagai daerah umat Buddha sudah menjadi kapital politik yang boleh dikatakan signifikan. Tidak jarang kita melihat banner, pamflet, dan baliho, bahkan iklan di media elektronik dan <em>online</em> memperlihatkan sosok Buddhis dengan atribut partai politik lengkap dengan visi dan misinya dengan atribut dan simbol keagamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada yang salah dengan dinamika ini, mungkin yang salah adalah ketika momentum Waisak ‘ditunggangi’ oleh kepentingan-kepentingan sekelompok oknum yang memanfaatkan situasi untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas politiknya. Kita harus sepakat bahwa Waisak adalah peringatan suci terhadap tiga tahapan kehidupan agung Buddha Gotama yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan agung dan pelepasan agung <em>(parinibbana)</em><em>,</em> tidak ada kaitannya dengan kepentingan pemenangan pemilu dan hal-hal duniawi lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Umat Buddha di seluruh pelosok Nusantara dalam menyongsong datangnya detik-detik bersejarah dalam kehidupan Buddha Gotama secara serentak melaksanakan berbagai aktifitas spiritual untuk mensucikan pikiran dari unsur-unsur negatif seperti keserakahan <em>(lobha)</em>, kebencian <em>(dosa)</em> dan kegelapan batin <em>(moha)</em>. Di vihara-vihara dilaksanakan latih diri <em>(bina vidya)</em>, membaca <em>partita</em>, bertirakat (melatih <em>attasila</em> dan <em>dasasila</em>) dan bermeditasi. Semuanya ditujukan untuk berdiam dalam nuansa kedamaian diri untuk memperoleh kondisi batin yang seimbang dan kontrol diri yang baik setelah peringatan Waisak purna. Proses hening diri ini sangat disayangkan apabila dikotori oleh muatan-muatan politis dan kepentingan-kepentingan sesaat tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa kita terus menghadapi cobaan yang secara sporadis mengancam identitas keaslian kearifan lokal <em>(local wisdom)</em> yang kita miliki. Budaya yang elok, <em>adiluhung</em>, saling menghormati, tahu diri, bergotong royong dan bermusyawarah adalah nilai-nilai kemoralan dan humanis yang telah menjadi orisinalitas bangsa kita. Akankan nilai-nilai tersebut akan terus tergerus dan terdegradasi oleh perilaku anak-anak bangsa yang tidak mencerminkan sikap manusiawi, beringas, tamak dan anarki?</p>
<p style="text-align: justify;">Kian maraknya kasus korupsi yang terjadi yang berbalut identitas agama tertentu oleh oknum si pelaku membuat posisi agama sebagai penguat moral <em>(morality empowerment)</em> semakin terpuruk. Anomali identitas agama sebagai instrumen formal dalam sebuah negara membuat sebagian orang mulai berpikir untuk ragu terhadap agama, bahkan di antaranya tidak mau beragama. Hal ini jika terjadi, tentu sangat disayangkan di negeri yang demikian mengkultuskan norma agama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara spesifik, agama Buddha Indonesia juga tengah dihadapkan pada masalah internal. Praktis Waisak tahun ini, audiensi Panitia Waisak Nasional dengan Menteri Agama RI, tanpa didampingi oleh Ketua Umum WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) S. Hartati Murdaya yang sedang menjalani masa hukuman atas kasus suap Bupati Buol. Isu Rohingnya juga hampir saja menyulut konflik SARA di dalam negeri yang merupakan preseden buruk dan mencerminkan bahwa bangsa kita masih <em>‘fragile’</em> rentan untuk mem-filter isu-isu yang datang dari luar dan yang berpotensi memecah-belah tatanan negara yang bersendikan pilar Bhinekka Tunggal Ika dan NKRI ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesederhaan, sebagai wujud dari &#8220;pelepasan&#8221;, sering makna kata ini disalahartikan menjadi tampil miskin dan hina. Buddha Gotama saat kembali dan mengenakan jubah bhikku <em>(civara)</em> terlepas dari ornamen-ornamen kedigdayaan, namun tetap mendapatkan sambutan yang hangat dengan penghormatan yang baik dari para rakyatnya, Suku Sakya, tidak terkecuali para brahmana yang menempati strata sosial tertinggi saat itu. Sikap seperti ini yang jarang sekali terlihat di pemimpin-pemimpin negeri ini. Pemimpin selalu ingin dilayani, diberikan fasilitas dan <em>previlege</em> khusus dan diberikan penghargaan pula. Sikap semacam ini diperparah oleh sistem perpolitikan negeri ini yang kerap membentuk pola dinasti dan oligarki. Dalam praktiknya, setiap individu yang terkait dalam sebuah sistem perpolitikan dan birokrasi akan berusaha menyenangkan pimpinan, sejawat dan kelompoknya, meski melanggar aturan dan norma agamanya sendiri. Jika kondisi ini tidak dibenahi secara benar, maka akan terus menjadi mata rantai korupsi, kolusi dan nepotisme yang tidak akan pernah bisa padam hingga akhir hayat dikandung badan. Sungguh merupakan kondisi yang tidak boleh dibiarkan.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya, Tangerang, Banten, Anggota Peneliti CENAS dan kini menjadi mahasiswa Program Doktor Universitas Atma Jaya, Jakarta</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cenasofindonesia.org/hening-waisak-damailah-bangsaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Basis, Si OB CENAS</title>
		<link>http://cenasofindonesia.org/pak-basis-si-ob-cenas/</link>
		<comments>http://cenasofindonesia.org/pak-basis-si-ob-cenas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 May 2013 08:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essays]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cenasofindonesia.org/?p=603</guid>
		<description><![CDATA[Salam, Mulai hari ini, Senin 13 Mei 2013, kantor Cenas di kawasan Pondok Labu bertambah ramai dengan kehadiran Bapak Basis, office boy (OB) baru di kantor CENAS. Sepertinya dia bukan pria bertipe seperti Ahmad Fathonah yang royal dan gemar berdana, &#8230; <a href="http://cenasofindonesia.org/pak-basis-si-ob-cenas/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai hari ini, Senin 13 Mei 2013, kantor Cenas di kawasan Pondok Labu bertambah ramai dengan kehadiran Bapak Basis, office boy (OB) baru di kantor CENAS. Sepertinya dia bukan pria bertipe seperti Ahmad Fathonah yang royal dan gemar berdana, lebih-lebih kepada perempuan-perempuan yang ia ingin manjakan. <span id="more-603"></span>Dia juga bukan tipikal Presiden kita SBY yang pidatonya berapi-api, tapi bingung antara maju apa mundur menaikkan harga BBM. Dia biasa-biasa saja, mirip orang kebanyakan yang mendedikasikan dirinya untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan masa depan keluarganya. Hari pertama kerja pun sudah dilalui dengan menyapu dan mengepel kantor, sehingga lantai kantor tampak kinclong dan aneka perabotan tampak rapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Umurnya sudah menginjak 48 tahun dan ia tercatat sudah malang melintang di dunia per-OB-an selama bertahun-tahun. Ia pernah menjadi tenaga serabutan, begitu kira-kira kata lain dari OB itu, di sebuah kantor NGO di kawasan Depok. Sempat berspekulasi menjadi pengusaha, menyuplai gorengan di kawasan Stasiun Depok, namun hingga dijalaninya sekian tahun, usahanya belum menemukan titik terang. Rupanya ia kangen ingin kembali ke dunia sebelumnya yang telah menempatkannya sebagai bagian penting dari berkembangnya sebuah peradaban manusia, dengan sample kecilnya adalah urusan rumah tangga sebuah kantor ORNOP.</p>
<p style="text-align: justify;">Tempat tinggalnya di Depok, tapi ia memilih tinggal di kantor CENAS. Kalau ke mana-mana memilih naik kendaraan umum, karena naik kendaraan roda dua (motor) trauma baginya. Asal muasalnya, sewaktu mencoba naik motor, ia pernah terjatuh dan sejak itu ia tidak pernah lagi mencobanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau-kalau menyambangi kantor CENAS, sambil memperpanjang dialektika dengan saling berdiskusi serta menulis tema-tema social-humaniora, kawan-kawan akan mendapatkan layanan primanya; disuguhi teh/kopi dan aneka gorengan atau makanan kesukaan lainnya. Dijamin, kawan-kawan akan semakin betah menghabiskan waktu di kantor CENAS selama Pak Basis, pria kelahiran Bukit Duri ini, setia mendampingi kita, sembari mendengar aneka jenis musik yang terlontar dari audio kecil notebook ultra Slim 22m seberat 1 kg dari Asus. (Maaf, belum diupgrade spesifikasinya).</p>
<p style="text-align: justify;">Have a good day!</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 13 Mei 2013</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cenasofindonesia.org/pak-basis-si-ob-cenas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Feature: Learning of Accommodating Diversity From the Yogya’ Royal Palace Building</title>
		<link>http://cenasofindonesia.org/feature-learning-of-accommodating-diversity-from-the-yogya%e2%80%99-royal-palace-building/</link>
		<comments>http://cenasofindonesia.org/feature-learning-of-accommodating-diversity-from-the-yogya%e2%80%99-royal-palace-building/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Mar 2013 10:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Learning of Accommodating Diversity From the Yogya’ Royal Palace Building]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cenasofindonesia.org/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[In a day of March in the 2013, the weather was extremely heat in Yogyakarta. Perhaps, it was nearly 30 degree Celsius. This condition, however, provided many Yogya Royal Palace’ street vendors who sells souvenirs sparkling of Javanese or Yogyanese’ &#8230; <a href="http://cenasofindonesia.org/feature-learning-of-accommodating-diversity-from-the-yogya%e2%80%99-royal-palace-building/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">In a day of March in the 2013, the weather was extremely heat in Yogyakarta. Perhaps, it was nearly 30 degree Celsius. This condition, however, provided many Yogya Royal Palace’ street vendors who sells souvenirs sparkling of Javanese or Yogyanese’ style almost not hampered at all. <span id="more-591"></span>Even, they ceaselessly shouted every tourist to be able to look around at their merchandises and hoping that they would buy at the end. Some tourist approached the kiosks, while some other did not. White people merely a few, whereas the rest were brown skin color like us meaning that most of tourists were local tourists. But, a ticket officer surprised us when she asked, “Are you from Malaysia, aren’t you? You should go over here.” She showed the ticket price that more expensive than that for local tourists. A funny thing happens in heat weather, then.</p>
<p style="text-align: justify;">Not too far from the ticket desk, we saw some royal valets standing near the main gate of the second building of Yogya Sultanic Palace. They wore Yogyanese’ unique dress that called <em>sorjan</em> with sarong batik and <em>blankon</em> that covered their head. Indeed, it is an amazing thing in the current modern era to notice that they didn’t wear any shoes or sandals or <em>nyeker </em>(in Jawa) as they were on duty. Indeed, we were given a lesson from their humble style serving to anyone who visits the royal palace. It seems that they gave a massage that we are urged to life in modest style and to unite with nature. It is not important to think of shoes’ brand follows the current life style with its full of imagery. The most important thing is integrating with nature and devoting ourselves to ultimate reality that protects the world and its order. Perhaps, those royal valets style has been mirrored the Javanese cosmology in which it is still maintained in Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat’ royal palace.</p>
<p style="text-align: justify;">Our recent visiting to the Yogya’ royal palace was occurred in the  second week of March 2013. There were two friends accompanying me during the visit that had made this visit more special than previous one. The first one is Ngatiyar, a postgraduate student of Sunan Kalijaga State Islamic Universiy of Islamic Studies Department and the second one is Yasin Musthofa, a civil servant for Department of Religious Affair of Yogyakarta district. We had have the same goal on this trip i.e. trying to find out the influence of Asian values which are institutionalized in this royal palace. We preferred observing the pictures, vignettes, and calligraphy alike patched at wall and pillar of the building thoroughly by ourselves to asking any information from the tour guide officers.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/04/Cakra.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-592" title="SANYO DIGITAL CAMERA" src="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/04/Cakra-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Daring to look at around without having any assistance from and listen to the guide officer explanation, we assumed in what matter of Asian Values presenting here are. Beginning from the first open building (<em>pagelaran</em>), we amazed that our eyes seeing the <em>cakra</em> (wheel) picture which is called <em>cakra manggilingan</em> in Javanese’ literature. Simply, it means the wheel goes around. According to this theorem, the world is going around and full of impermanency. Upper position will be no remaining static. In contrast, below position will do the same thing. Life is just like a wheel that will always go around. Probably, this principle follows to the principle of annicha in Buddhism that means everything will always be changed and there is no permanency. In another part of the building, we saw a mountain with its forest trees picture that if we search its reference, we will find that it is influenced by Sanskrit culture. Mountain and its forest trees picture is usually used as one of the Javanese shadow puppet (<em>wayang</em>) backgrounds shown by the narrator with its meaning that it is the universe gives protection to human being.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/04/Lotus.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-593" title="SANYO DIGITAL CAMERA" src="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/04/Lotus-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Then, we stepped into the open space building (<em>bangsal</em>) in the second main building. We looked at another symbol patched in the wall and pillars. Well, it is no other than lotus flower. What does it mean of lotus flower? Yes of course, many people know about the meaning of lotus flower. But, it might be a very noble meaning for the royal family knowing that it patched at pillars and walls of the royal building. Lotus flower usually grows over the dirty and muddy water. If someone wants to be a noble man, he or she should swim in muddy world instead avoid this worldly life.  They should be able to tackle hurdles passing in this worldly life. Life is not easy in greedy world, of course. But, a noble man will be rose from such condition. It is probably the meaning of lotus flower. Indeed, there are many symbol and marks of lotus flower in other parts of the royal building.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/04/bedug.jpg"><img class="size-medium wp-image-594 aligncenter" title="SANYO DIGITAL CAMERA" src="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/04/bedug-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>In addition, we also observed a tool for inviting Muslim to attend a communal prayer in mosques that called <em>bedug</em>. It is about two meters long and made from a big tree pierced its center and then covered by cow’ skin on  it both sides. Besides, there is also a smaller tree than that of <em>bedug</em> pierced at one side only called <em>kentongan</em>. <em>Bedug</em> and <em>kentongan</em> used to strike in mosques when Sholat time is coming, but it is now  has drastically been declined mosques striking <em>bedug</em> and <em>kentongan</em> since a calling for attending mosques to perform communal prayer or <em>azan</em> (Arabic) is widely being substituted by loudspeaker machine.</p>
<p style="text-align: justify;">From our recent visiting of Yogya’ royal palace, we learned much about the  way of the palace in accommodating of its people&#8217; religious and values diversity. We also noticed that the palace able to accept various of religious and values symbols giving an evidence that the Yogyakarta&#8217; Royal Kingdom could manage religious diversity well as it can be seen from its buildings.</p>
<p align="right">Zaenal Abidin Ekoputro/<em>Centre of Asian Studies (CENAS) </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cenasofindonesia.org/feature-learning-of-accommodating-diversity-from-the-yogya%e2%80%99-royal-palace-building/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Feature: Kunjungan ke Kraton Kasultanan Yogya; Terik Di Luar, Sejuk di Dalam</title>
		<link>http://cenasofindonesia.org/feature-kunjungan-ke-kraton-kasultanan-yogya-terik-di-luar-sejuk-di-dalam/</link>
		<comments>http://cenasofindonesia.org/feature-kunjungan-ke-kraton-kasultanan-yogya-terik-di-luar-sejuk-di-dalam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Mar 2013 11:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essays]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Values di Kraton Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cenasofindonesia.org/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Cuaca memang terasa panas di sini. Barangkali mendekati angka 30 derajat Celicius. Namun, mungkin karena sudah terbiasa, puluhan penjaja aneka souvenir bercirikan Yogya dan Kraton masih bertahan menunggui dagangannya. Satu dua pembeli mengamati barang-barang tersebut. Mereka tidak lain para turis &#8230; <a href="http://cenasofindonesia.org/feature-kunjungan-ke-kraton-kasultanan-yogya-terik-di-luar-sejuk-di-dalam/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cuaca memang terasa panas di sini. Barangkali mendekati angka 30 derajat Celicius. Namun, mungkin karena sudah terbiasa, puluhan penjaja aneka souvenir bercirikan Yogya dan Kraton masih bertahan menunggui dagangannya. Satu dua pembeli mengamati barang-barang tersebut. Mereka tidak lain para turis yang sengaja datang ke kraton ini. Satu dua tampak berkulit putih, sisanya jelas turis domestik dengan ciri-ciri berkulit sawo matang. Aih, tidak juga rupanya. Buktinya petugas bagian karcis menebak, &#8220;Dari Malaysia ya?!&#8221; sambil mengarahkan ke loket turis asing.<span id="more-566"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak jauh dari tempat itu terlihat gamblang para abdi dalem, mengenakan baju sorjan, kain sarung batik dan blangkon sebagai penutup kepala. Di tengah arus jaman yang demikian gemerlap ini, suatu keanehan jika melihat mereka masih tidak menggunakan alas kaki alias <em>nyeker</em>. Melihat pemandangan seperti ini di sini, bukankah kunjungan kali ini juga amat berfaedah karena diajak belajar kembali tentang kesederhanaan, hidup secukupnya dan apa adanya. Menyatu dengan alam. Tidak perlu risau memikirkan merek sepatu atau sandal apa yang pas menurut ukuran kantong dan kaki. Tidak perlu susah juga mengikuti gaya jaman sekarang yang penuh pesona pencitraan palsu. Terpenting manunggal (penyatuan) dan pengabdian, kepada sesuatu yang mengayomi dunia dan tatanannya. Mungkin, perilaku para abdi dalem itu cerminan dari kosmologi Jawa yang masih terlestarikan di Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kunjungan kali ini dilakukan pada pertengahan Maret 2013. Terasa lain karena dua orang kenalan menemani kunjungan kali ini, Ngatiyar seorang mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Yasin Musthofa, pegawai Kemenag Kota Yogyakarta. Begitu mengesankan kebersamaan kali ini karena kami sama-sama mempunyai keinginan untuk mencari hal yang sama, yaitu pengaruh nilai-nilai Asia (<em>Asian values</em>) yang terlembagakan dalam bangunan Kraton. Kali ini kami lebih ingin melakukan pengamatan langsung atau observasi, ketimbang mendengarkan para <em>guide</em> yang tentunya sangat fasih sebenarnya untuk menjelaskan detil simbol yang tertempel di dinding, maupun tiang penyangga pendopo yang memiliki nama berbeda-beda itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/03/Cakra.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-567" title="SANYO DIGITAL CAMERA" src="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/03/Cakra-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Dengan sedikit kenekatan seperti itu, kami mereka-reka, seperti apakah <em>Asian values</em> yang ada itu? Dari mulai pagelaran, atau pendopo paling luar, ternyata mata kami sudah tertuju dengan simbol cakra (roda), atau dalam literatur Jawa biasanya disebut <em>cakra manggilingan</em>. Sederhananya, diartikan roda yang menggelinding. Maknanya, dunia ini berputar, tidak ada yang tetap di atas, atau terus menerus di bawah. Hidup ini akan menggelinding terus seperti roda pedati. Mungkin, sekali lagi mungkin, jika dirunutkan, konsep ini akan bertemu dengan hukum anicha, semua berubah dan tidak ada yang kekal. Ada juga simbol berbentuk gunung dan belantaranya yang kalau dicarikan rujukannya, ini pengaruh budaya Sanskerta. Jagad yang memberi pengayoman. Model seperti ini tentulah tidak bisa dilewatkan dalam dunia seni pertunjukan rakyat wayang kulit yang selalu menampilkan gunungan sebagai salah satu <em>setting</em> ceritanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/03/Lotus1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-569" title="SANYO DIGITAL CAMERA" src="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/03/Lotus1-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Selanjutnya, mata kita akan tertuju pada simbol lain yang terpahatkan di tiang-tiang bangsal, yaitu simbol bunga teratai (<em>lotus</em>). Tentulah sudah banyak yang tahu apa makna pentingya dari bunga teratai, sampai-sampai harus dipahatkan di tiang-tiang istana ini. Sekali lagi, bagi yang berkunjung ke kraton ini akan disuguhkan makna-makna kehidupan yang luhur, supaya tentunya bagi pengunjung bisa belajar dan memahami pesan dari bunga teratai yang terpahatkan itu. Bunga teratai biasanya mekar indah berkilau di atas air yang berlumpur. Supaya mudah, kira-kira pesannya adalah menjadi orang yang mulia tidaklah harus lari dari kegelapan duniawi. Orang luhur nan mulia adalah justru tumbuh dari lingkungan yang sedikit kotor. Tentulah susah untuk menjadi mulia di lingkungan kotor, kebanyakan <em>sih</em> ikutan kotor. <em>“Emang begitu biasanye!”</em> begitu orang Betawi bilang. Begitulah kira-kira makna di balik simbol bunga teratai. Benar, tidak terhitung berapa banyaknya lambang bunga teratai ini baik terpahatkan di tiang-tiang maupun di bagian tertentu dari atap istana.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/03/bedug.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-570" title="SANYO DIGITAL CAMERA" src="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/03/bedug-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Tidak kalah menariknya adalah kita akan menjumpai bedug dan kentongan yang ditempatkan di bangunan museum bagian dalam, sebagai ornamen dan simbol ajakan untuk berdekatan kepada Sang Pencipta. Bedug dan kentongan dulu begitu ramai dibunyikan, namun sekarang sama-sama kita ketahui berkurang seiring dengan riuh rendahnya suara speaker mengumandangkan azan. Adanya beragam simbol itu juga menandakan begitu terbukanya kraton terhadap keberagaman, yang tentu seolah menyiratkan bahwa keterbukaan juga penting tertanam pada diri setiap individu. Pada diri individu yang terbuka, binar-binar pengetahuan terus menyala, dan membangun karakter demi kemajuan bangsa.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itulah, kunjungan kali ini sebenarnya bisa dimaknai belajar kembali tentang makna hidup dan makna dunia hakiki yang tersimpan di dalam bentuk budaya material, yakni Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.</p>
<p style="text-align: right;" align="right">Zaenal Abidin Ekoputro/<em>Centre of Asian Studies (CENAS) </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cenasofindonesia.org/feature-kunjungan-ke-kraton-kasultanan-yogya-terik-di-luar-sejuk-di-dalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Our New Logo</title>
		<link>http://cenasofindonesia.org/our-new-logo/</link>
		<comments>http://cenasofindonesia.org/our-new-logo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2013 06:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cenasofindonesia.org/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[We proudly present our new logo hereunder:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #888888;">We proudly present our new logo hereunder:</span></p>
<p><a href="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/02/Logo-Baru.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-559" title="Logo Baru" src="http://cenasofindonesia.org/id/wp-content/uploads/2013/02/Logo-Baru.jpg" alt="" width="1257" height="645" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cenasofindonesia.org/our-new-logo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
