Sekadar Berbagi Kesan Kunjungan Ke Petilasan Kerajaan Sriwijaya
Pelembang sebagai perkembangan wilayah urban di wilayah Sumatera terus berbenah. Di sepanjang jalan bisa dijumpai ruko dan tempat perbelanjaan yang menjual aneka macam kebutuhan, termasuk yang menarik bagi turis; pempek, krupuk kemplang, tekwan dan seterusnya. Meskipun orang Palembang telah berdiaspora di seluruh wilayah Indonesia dan melestarikan menu pempek, termasuk yang membuka usaha di dekat rumah saya atau rumah Anda mungkin, tapi katanya pempek yang dijual di Palembang berbeda, tetap lebih lembut dan lebih dari sekadar pempek yang dijual di luar Palembang. Demikian kata teman kepada saya yang meyakinan betapa sayang kalau di Palembang tidak membeli makanan khas kota itu.
Kunjungan ke Palembang pertengahan September 2012 lalu atas undangan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya, Tangerang, Banten untuk berpartisipasi dalam kegiatan perumusan kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi mahasiswa Jurusan Kependidikan di kampus tersebut. Meski saya bukan orang pendidikan, namun kata pengundang, Mas Edi Rama Wijaya, Kepala Jurusan (Kajur) Dharmacharya, saya diplot sebagai pemerhati pendidikan. Awalnya ragu, tetapi saya pikir, setiap orang yang melek huruf, pasti tidak mungkin tidak memperhatikan pendidikan. Muncul semangat lain, Uthlubul Ilma walau bissiin, carilah ilmu sampai ke negeri China, kata sebuah hadits. Intinya jadi orang harus pintar, atau dalam Buddhis mencapai pencerahan (enlightenment). Di mana-mana bisa dijadikan tempat belajar. Bahkan dalam tradisi Chan Buddhism, kearifan pengalaman yang sangat personal juga bisa membawa kepada kepintaran atau pencerahan itu.
Benar saja, di forum itu ternyata bertemu dengan para pengelola PAUD dan pengajar PAUD yang kenyang pengalaman dalam mengelola PAUD atau taman kanak-kana (TK) seperti salah satunya Ibu Windy, sarjana Teknik Kimia yang merintis dan mengelola TK Ehipasiko di BSD hingga seperti sekarang. Begitu juga bertemu dengan para ahli menangani anak-anak, yaitu para guru TK yang entah mengapa kebanyakan dari mereka perempuan. Apakah ini makin membenarkan stereotype bahwa perempuan lebih telaten? Kelihatan betul, kebanyakan mereka orang yang sangat sabar, dilihat dari cara mereka berdiskusi tanpa perlu menonjolkan emosi. Ini tentu pelajaran yang sangat penting, bukan?
Di luar dugaan saya, ternyata forum ini juga mengagendaan ekskursi, kunjungan ke tempat bersejarah. Berangkatlah satu bus dan dua mobil dari Hotel Sintesa Peninsula ke Bukit Siguntang, peninggalan terakhir Kerajaan Sriwijaya. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam. Memang bukan sisa-sisa kerajaan Sriwijaya yang dijumpai di sini, karena masih sulit diyakini di mana letak persisnya bekas kerajaan ini, tetapi di bukit ini tempat kuburan raja terakhir Sriwijaya, Sri Baginda Segentar Alam. Kami menjumpai bangunan di kawasan ini sudah direnovasi. Makam Sri Banginda Segentar Alam ditunggui oleh juru kunci, seorang perempuan muda berkerudung kuning keemasan. Warna kerudung itu persis dengan warna batu nisan dan bangunan semen yang menutupi kuburan yang kecuali hanya terbuka di bagian tengahnya. Mirip makam-makam wali di Jawa. Mengapa kuning? Warna kuning dalam Buddhism, kata Pak Sapardi, Ketua STABN Sriwijaya Tangerang, berarti kebijaksanaan (wisdom). Hampir semua rombongan melakukan puja bakti dengan membaca paritta yang dipimpin Pak Edi Gimin, Pembantu Ketua STABN Sriwijaya yang pernah mengenyam pendidikan samanera di Sri Lanka selama enam tahun dan ahli Bahasa Pali, bahasa yang cukup langka itu. Jadilah ingat seperti mengunjungi makam auliya’, para wali terutama di Jawa, mengirim doa dan tahlil di makam-makam mereka.
Kata Pak Sapardi, kita semua yang ikut dalam rombongan ini dulunya adalah orang-orang Sriwijaya, meskipun sekarang sudah terkotak-kotak menjadi berbagai kelompok. Menurutnya, kita perlu menggali kembali spirit kebesaran Sriwijaya yang mampu bertahan berabad-abad lamanya sebagai pusat peradaban kala itu. Tentulah belum seberapa masa Indonesia ini yang baru 67 tahun sekarang ini. Ketenaran Sriwijaya dibuktikan dengan tulisan Fa Shien yang menulis kedatangan bhikkhu-bhikhhu Buddha dari China ke Sriwijaya. Karena itulah, kampus yang ia dirikan bersama kawan-kawannya, dinamakan Sriwijaya. Mungkin akan sama dengan Universitas Sriwijaya di Palembang, namun kampus ini khusus untuk mempelajari Agama Buddha.
Peninggalan Buddhisme di Sriwijaya juga dapat dilihat di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, tidak jauh dari Jembatan Ampera yang kesohor itu. Di depan pintu masuk museum, terdapat patung Buddha yang diduga berasal dari daerah luar, karena unsur dan jenis batu dari patung itu tidak sama dengan jenis bebatuan di daerah Palembang. Diperkirakan patung itu hadiah dari luar negeri. Penduduk menemukan patung itu hanya kepalanya saja pada awalnya. Lalu bagian kepala itu disimpan di Mesium Nasional, Jakarta. Belakangan ditemukanlah potongan tubuh-nya. Akhirnya patung kepala itu dibawa kembali ke Palembang untuk disatukan dengan tubuhnya, dan sekarang diabadikan di depan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini. Hal ini seperti diutarakan oleh Bapak Suyanto, salah satu Pembantu Ketua di STABN Sriwijaya yang asli Blitar, Jawa Timur.
Sampailah pada suatu perbincangan di tengah makan siang bersama Pak Suyanto. Kami mendiskusikan warisan hidup (Living artifact) seperti apa yang bisa digali dari Kerajaan Sriwijaya di masa sekarang. Kami hanya bisa terdiam sesaat. Jawabannya sulit. Mungkin kami belum menemukannya. Mestilah perlu diupayakan terus untuk menemukan budaya perilaku yang merupakan warisan dari Sriwijaya. Mungkin memang masih teramat jauh. Namun, upaya untuk mengenang kembali kebesaran Kerajaan Sriwijaya seperti ini layak diapresiasi. (Zaenal Abidin Eko Putro)